Sebelum Kamu Bermaksiat

Sesungguhnya maksiat adalah luka bagi hati, kegelapan bagi jiwa, kelemahan bagi raga, jalan menuju nestapa, serta penggiring kepada neraka. Sungguh kemaksiatan itu walaupun menyenangkan pada awalnya namun kesengsaraan telah menantinya. Apabila orang yang senantiasa melakukannya mengetahui akibat
buruk dari dosa dan maksiat, niscaya dia akan berhenti dari melakukannya dan akan istiqomah (teguh) dalam ketaatan dan kebaikan. Akan tetapi mata kemaksiatan itu adalah buta!

Seorang penyair berkata:
Terkadang mata mengingkari cahaya matahari lantaran buta
Dan mulut mengingkari segarnya air lantaran sakit menderita

SEJARAH TELAH MENASIHATI KITA
Apakah gerangan yang telah membinasakan umat-umat terdahulu dan kejayaannya, selain daripada dosa-dosa dan kemaksiatan?

Allah ‘azza wa jalla berfirman:
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan”. (QS. al-‘Ankabut: 40)

Apa yang telah mengeluarkan kedua orang tua kita (Adam dan Hawa) dari surga tempat yang penuh kelezatan, kenikmatan, kegembiraan dan kebahagiaan kepada tempat yang dihiasi rasa sakit, kesedihan dan kesengsaraan?

Apa yang telah mengeluarkan iblis dari kerajaan langit, mengusirnya, melaknatnya, membencinya, dan menjadikannya pemimpin bagi setiap orang yang durhaka, sesat lagi ingkar?

Apa yang telah menenggelamkan seluruh penduduk bumi pada zaman nabi Nuh ‘alaihis salam, sehingga permukaan air lebih tinggi dari
puncak gunung?

Apa yang telah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya di laut, kemudian melemparkan arwah mereka ke neraka, sehingga jasad-jasadnya ditenggelamkan dan arwah-arwahnya dibakar?

Apa yang telah menjadikan keadaan kita berbalik, sehinga orang-orang Yahudi merampas negeri-negeri, tempat-tempat suci dan harta-harta kita? menyembelih, membunuh dan menyiksa kita, sehingga kita menjadi umat yang yang terhina setelah dahulunya kita adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia?

Bukankah hal itu tidak lain lantaran dosa-dosa dan kemaksiatan? Bukankah itu disebabkan kita terlalu condong kepada dunia dan meninggalkan jihad di jalan Allah ta’ala? Bukankah semua itu disebabkan oleh kita yang selalu menuruti hawa nafsu dan mencari-cari kenikmatan yang haram lagi semu?

SEBELUM BERMAKSIAT
Wahai saudaraku tercinta, sebelum kamu berbuat maksiat, ingatlah bahwasanya Allah melihatmu dan Dia Maha Mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan. Firman-Nya:

[arabic-font]أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ[/arabic-font]

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. al-Mujadilah: 7)

Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah bahwasanya Malaikat mencatat semua perkataan dan perbuatanmu di dalam lembaran-lembaran amalmu, dia tidak akan meninggalkan sedikitpun dari amalanmu meski sekecil dzarrah ataupun lebih kecil lagi
dari itu. Allah ta’ala berfirman:

[arabic-font]مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ[/arabic-font]

“Tiada suatu lafazhpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

“Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. al-Jatsiyah: 29).

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. az-Zalzalah: 7-8)

Sebelum bermaksiat, ingatlah hari dimana orang-orang durjana berkata:

“Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun”. (QS. al-Kahfi: 49)

Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah hari dimana orang-orang kafir berkata:

“Aduhai, alangkah baiknya sekiranya dahulu aku adalah tanah”. (QS. an-Naba: 40) Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah hari tatkala matahari didekatkan berjarak hanya satu mil dari kepala dan manusia bergelimang dengan keringat. “Lalu mereka berada dalam keringat sesuai amal perbuatan mereka, di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringat.” (HR. Muslim)

Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah hari tatkala manusia dikumpulkan pada hari kiamat tanpa beralas kaki, tanpa ada sehelai benang yang melapisi dan tanpa dikhitani. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tak beralas kaki, tanpa ada sehelai benang yang melapisi dan tanpa dikhitani”. Aisyah berkata: Ya Rasulullah, wanita dan laki-laki semuanya akan saling melihat satu sama lain. Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, perkara hari itu lebih dahsyat dari sekedar melihat satu sama lain.” (Muttafaq ‘alaihi)

Sebelum bermaksiat, ingatlah saat kematian, saat ruh berpisah dengan jasad, saat dimana kamu menyesali dirimu sedangkan pada saat itu tidak bermanfaat penyesalan dan permohonan ampunmu. Firman-Nya:

“Jika mereka bersabar (menderita adzab) maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya.” (QS. Fushshilat: 24)

Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah malakul maut yang mengurusi pencabutan ruhmu, dia mencabutnya dengan begitu keras, sehingga seluruh anggota tubuhmu terasa tercabik-cabik lantaran kerasnya.

Ketika itu kamu ingin bertasbih walau hanya satu kali namun mulut tak mampu menuruti, atau ingin bertakbir walau satu kali namun lidah tidak berdaya, atau ingin bertahlil saja namun juga tidak kuasa, atau ingin shalat walau hanya dua rakaat namun tubuh tidaklah kuat, atau bersedekah walau hanya satu rupiah namun diri teramat payah, atau membaca al-Qur`an meski satu ayat namun lisan tak mau terangkat.

Sungguh lisan telah membisu, mata telah terbelalak, tangan dan kaki telah kaku dan akalpun hilang lantaran dahsyatnya apa yang dia lihat pada hari itu.

Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah akan kubur dan azabnya, kesempitan dan kegelapannya, cacing-cacing dan hewan-hewannya, kuburan itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sekiranya kalian tidak akan saling menguburkan, niscaya sudah aku mohonkan kepada Allah untuk memperdengarkan adzab kubur kepada kalian.” (HR. Muslim)

Di antara akibat yang paling besar dari kemaksiatan adalah bahwasanya kemaksiatan menjadikan terputusnya hubungan antara hamba dan Rabb-nya, dan apabila hal ini terjadi maka terputuslah darinya sebab-sebab kebaikan dan tersambunglah dengan sebab-sebab kejelekan.

Kita berdoa kepada Allah tabaraka wa ta’ala semoga Dia menjadikan kita termasuk hambanya yang taat yang tidak ada ketakutan baginya dan tidak pula dia bersedih hati.

(Diringkas dan diterjemahkan dari buku Tadzakkar Qobla an Ta’shiya)

Oleh: Bambang Prasetyo
Sumber: www.buletinaliman.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *