Sikap Ahlussunnah terhadap Pemimpin Kaum Muslimin

Sikap Ahlussunnah Terhadap Pemimpin Kaum Muslimin (Ustadz Abdurrahman Thayyib, Lc.)

Islam adalah agama yang sempurna mencakup segala bidang kehidupan manusia. Tidak ada suatu hal yang bisa mendatangkan kemaslahatan bagi umat atau yang mencegah kemadharatan darinya melainkan telah dijelaskan dengan segamblang-gamblangnya. Kalau saja dalam masalah buang hajat, Islam telah menjelaskan dengan terang apalagi yang berkaitan dengan kemaslahatan umat, seperti masalah bersikap terhadap penguasa kaum muslimin. Al-Qur’an dan hadits yang shahih serta kitab-kitab aqidah ulama salaf telah menjelaskan bagaimana sikap bijak terhadap pemimpin kaum muslimin.

Secara ringkas ada 7 sikap bijak terhadap mereka: menghormati, mendengar dan taat, bersabar, menasehati, mendoakan, tidak memberontak, dan melaksanakan sebagian ibadah bersama mereka. Pembahasan ini sangat amat urgen di zaman yang penuh fitnah ini, terlebih lagi hal ini amat langka dan jarang disampaikan oleh para da’i ataupun khatib atau para penulis. Dan semua itu dalam rangka menyelamatkan umat dari berbagai macam fitnah dan malapetaka.

 

1. Memuliakan Pemimpin Kaum Muslimin

[arabic-font]عن أبي بكرة تعالى قال : سمعت رسول الله تعالى يقول : السلطان ظل الله في الأرض، فمن أكرمه أكرمه الله، ومن أهانه أهانه الله.[/arabic-font]

Dari Abu Bakrah radhiyallahu ‘anhu beliau berkata : Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda : Pemimpin (kaum muslimin) adalah naungan Allah di atas muka bumi, maka barangsiapa yang memuliakannya maka Allah akan memuliakannya dan barangsiapa yang menghinakannya maka Allah akan menghinakannya. (HSR. Ibnu Abi ‘Ashim)

[arabic-font]قال العلامة الشيخ محمد بن صالح العثيمين رحمه الله : فالله الله في فهم منهج السلف الصالح في التعامل مع السلطان، وأن لا يتخذ من أخطاء السلطان سبيلاً لإثارة الناس وإلى تنفير القلوب عن ولاة الأمور، فهذا عين المفسدة، وأحد الأسس التي تحصل بها الفتنة بين الناس. كما أن ملء القلوب على ولاة الأمر يحدث الشر والفتنة والفوضى.[/arabic-font]

Syaikh Al-‘Allamah Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullahu berkata : Bertakwalah kepada Allah dan berpeganglah dengan pemahaman Salafush Shalih dalam bermuamalah dengan penguasa. Dan janganlah kesalahan-kesalahan penguasa dijadikan sebagai bahan untuk menghasut manusia dan menjauhkan hati-hati mereka dari para penguasa. Ini merupakan sumber kerusakan dan fitnah diantara manusia, sebagaimana rasa dengki kepada penguasa dapat menimbulkan keburukan, fitnah dan kekacauan.[1]

[arabic-font]ورحم الله سهل بن عبد الله التستري حينما قال : لا يزال الناس بخير ما عظموا السلطان والعلماء، فإن عظموا هذين : أصلح الله دنياهم وأخراهم، وإن استخفوا بهذين : أفسدوا دنياهم وأخراهم.[/arabic-font]

Semoga Allah merahmati Sahl bin Abdillah At-Tasturi ketika beliau berkata : Senantiasa manusia dalam kebaikan selama mereka memuliakan para penguasa dan para ulama. Jika mereka memuliakan kedua kelompok manusia tersebut (ulama dan umara’) maka Allah akan memperbaiki dunia dan akhirat mereka. Namun jika mereka menghinakan ulama dan umara’ maka mereka telah merusak dunia dan akhiratnya.[2]

 

 2. Mentaati Penguasa Selama Bukan dalam Kemaksiatan

Allah Ta’ala berfirman :

[arabic-font]يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ أَطِيعُواْ اللّهَ وَأَطِيعُواْ الرَّسُولَ وَأُوْلِي الأَمْرِ مِنكُمْ[/arabic-font]

Wahai orang-orang yang beriman taatilah Allah dan taatilah Rasul serta pemimpin diantara kalian. (QS. An-Nisa’ : 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

[arabic-font]يَكُونُ بَعْدِي أَئِمَّةٌ لَا يَهْتَدُونَ بِهُدَايَ ولا يَسْتَنُّونَ بِسُنَّتِي وَسَيَقُومُ فِيهِمْ رِجَالٌ قُلُوبُهُمْ قُلُوبُ الشَّيَاطِينِ في جُثْمَانِ إِنْسٍ قال: قلت: كَيْفَ أَصْنَعُ يا رَسُولَ اللَّهِ إن أَدْرَكْتُ ذلك؟ قال: تَسْمَعُ وَتُطِيعُ لِلْأَمِيرِ وَإِنْ ضُرِبَ ظَهْرُكَ وَأُخِذَ مَالُكَ فَاسْمَعْ وَأَطِعْ.[/arabic-font]

Akan datang pemimpin-pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak berpegang dengan sunnahku. Dan akan muncul ditengah-tengah mereka orang-orang yang berhati setan dalam jasad manusia. Dia (Hudzaifah radhiyallahu ‘anhu) berkata : Aku bertanya : Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika aku mendapati pemimpin-pemimpin yang demikian itu? Rasul menjawab : Tetap engkau mendengar dan mentaati pemimpin tersebut meskipun dia memukul punggungmu dan merampas hartamu. Dengarkan dan taatilah dia. (HR. Muslim)

 

 3. Bersabar atas Kedzaliman Pemimpin

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

[arabic-font]من رأى من أميره شيئا يكرهه فليصبر فإنه من فارق الجماعة شبرا فمات فميتة جاهلية[/arabic-font]

Barangsiapa yang melihat dari pemimpinnya apa yang tidak dia sukai maka hendaknya dia bersabar. Karena barangsiapa yang memisahkan diri dari jama’ah (pemimpin kaum muslimin) sejengkal saja kemudian dia mati, maka dia mati dalam keadaan jahiliyah. (HR. Muslim)

[arabic-font]قال الحسن البصري رحمه الله : والله لو أن الناس إذا ابتلوا من قبل سلطانهم صبروا ما لبثوا أن يرفع الله – عز وجل – ذلك عنهم وذلك أنهم يفزعون إلى السيف فيوكلون إليه، والله ما جاؤوا بيوم خير قط، ثم تلا : ) وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الحُسْنَى عَلَى بَنِي إِسْرَائِيلَ بِمَا صَبَرُوا وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُ وَمَا كَانُوا يَعْرِشُونَ (.[/arabic-font]

Imam Hasan Al-Bashri rahimahullahu pernah berkata : Demi Allah, seandainya manusia ditimpa musibah berupa pemimpin (yang dzalim) kemudian mereka bersabar. Maka tidak berselang lama Allah pasti mengentaskan musibah tersebut dari mereka. Akan tetapi mereka menghunuskan pedang hingga nasib mereka diserahkan kepadanya. Maka demi Allah mereka tidak bisa mendatangkan hari yang lebih baik. Kemudian Hasan Al-Bashri membaca ayat yang artinya : “dan telah sempurnalah Perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. dan Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir’aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka(QS. Al-Isra’ : 137).[3]

[arabic-font]يقول ابن أبي العز الحنفي رحمه الله : وأما لزوم طاعتهم وإن جاروا لأنه يترتب على الخروج من طاعتهم من المفاسد أضعاف ما يحصل من جورهم بل في الصبر على جورهم تكفير السيئات ومضاعفة الأجور، فإن الله تعالى ما سلطهم علينا إلا لفساد أعمالنا والجزاء من جنس العمل، فعلينا الاجتهاد في الاستغفار والتوبة وإصلاح العمل. قال تعالى : ) وَمَا أَصَابَكُم مِّن مُّصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَن كَثِيرٍ ( …. وقال تعالى : ) وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضاً بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ ( فإذا أراد الرعية أن يتخلصوا من ظلم الأمير الظالم، فليتركوا الظلم.[/arabic-font]

Imam Ibnu Abi Al-‘Izzi rahimahullahu berkata : “Adapun diwajibkannya tetap mentaati pemimpin meskipun mereka dzalim karena keluar dari ketaatan kepada mereka bisa mendatangkan bahaya yang lebih berlipat ganda dari kedzaliman mereka. Bahkan bersabar dalam menghadapi kedzaliman mereka akan bisa menghapuskan dosa dan meraih pahala. Dan Allah tidaklah menguasakan mereka atas kita melainkan karena kerusakan amal perbuatan kita dan balasan sesuai dengan amal perbuatan. Maka wajib bagi kita untuk berusaha meminta ampunan-Nya dan bertaubat serta memperbaiki amal perbuatan. Allah berfirman : “Tidaklah musibah itu menimpa kalian kecuali karena sebab dosa-dosa kalian dan Allah lebih banyak mengampuni” (QS.Asy-Syura :30)…..dan Allah berfirman : “Dan demikianlah Kami kuasakan sebagian orang yang dzalim atas yang lainnya karena sebab perbuatan mereka” (QS.Al-An’aam : 129). Jika rakyat menginginkan agar terbebas dari kedzaliman penguasa yang dzalim maka hendaklah mereka meninggalkan kedzaliman.[4]

 

 4. Menasihati Pemimpin Kaum Muslimin

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

[arabic-font]الدين النصيحة ، قلنا : لمن يا رسول الله ؟ قال : لله ، ولكتابه ، ولرسوله ، ولأئمة المسلمين وعامتهم[/arabic-font]

Agama adalah nasihat. Kami (para shahabat) berkata : Untuk siapa (nasehat tersebut), Wahai Rasulullah? beliau menjawab : Untuk Allah, rasul-Nya, pemimpin kaum muslimin dan keumuman kaum muslimin. (HR. Muslim)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda :

[arabic-font]من أراد أن ينصح لذي سلطان فلا يبده علانية, و ليأخذ بيده فإن سمع منه فذاك و إلا كان قد أدى الذي عليه[/arabic-font]

Barangsiapa yang ingin untuk menasehati pemimpinnya maka jangan disebarkan di depan umum. Hendaklah dia ambil tangannya (nasehati empat mata). Jika dia mau mendengarkan darinya maka itu yang diharapkan dan jika tidak maka telah gugur kewajiban. (HSR. Ibnu Abi Ashim)

[arabic-font]وقال الشيخ عبد العزيز بن عبد الله بن باز رحمه الله: ليس من منهج السلف التشهير بعيوب الولاة وذكر ذلك على المنابر, لأن ذلك يفضي إلى الانقلابات , وعدم السمع والطاعة في المعروف, ويفضي إلى الخروج الذي يضر ولا ينفع, ولكن الطريقة المتبعة عند السلف النصيحة فيما بينهم وبين السلطان, والكتابة إليه, أو الاتصال بالعلماء الذين يتصلون به حتى يوجه إلى الخير.[/arabic-font]

Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah bin Baz rahimahullahu berkata : Bukan termasuk manhaj salaf menyebarkan aib para penguasa dan menyebutkannya di mimbar-mimbar. Karena hal tersebut bisa mengakibatkan kudeta dan tidak adanya perhatian untuk mendengarkan dan mentaati penguasa dalam kebaikan. Dan hal itu akan dapat menyebabkan pemberontakan yang memadharatkan dan tidak bermanfaat. Akan tetapi metode salaf dalam menasehati pemimpin yaitu dengan cara empat mata, menulis surat kepadanya atau meminta perantara para ulama yang memiliki hubungan dengan mereka hingga sampainya kebaikan.[5]

 

 5. Mendoakan Pemimpin dengan Kebaikan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

[arabic-font]خِيَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُحِبُّونَهُمْ وَيُحِبُّونَكُمْ ، وَتُصَلُّونَ عَلَيْهِمْ وَيُصَلُّونَ عَلَيْكُمْ ، وَشِرَارُ أَئِمَّتِكُمُ الَّذِينَ تُبْغِضُونَهُمْ وَيُبْغِضُونَكُمْ , وَتَلْعَنُونَهُمْ وَيَلْعَنُونَكُمْ[/arabic-font]

Sebaik-baik pemimpin kalian adalah yang kalian mencintai mereka dan mereka mencintai kalian. Kalian mendoakan mereka (dengan kebaikan) dan mereka mendoakan kalian (dengan kebaikan). Dan sejelek-jelek pemimpin kalian adalah yang kalian membenci mereka dan mereka membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka melaknat kalian. (HR. Muslim)

Imam Al-Barbahari rahimahullahu berkata :

[arabic-font]وإذا رأيت الرجل يدعوا على السلطان، فاعلم أنه صاحب هوى وإذا رأيت الرجل يدعو للسلطان بالصلاح، فاعلم أنه صاحب سنة – إن شاء الله –.[/arabic-font]

Apabila anda melihat seseorang mendoakan pemimpinnya dengan kejelekan maka ketahuilah bahwa dia adalah pengekor hawa nafsu. Dan apabila anda melihat seseorang mendoakan pemimpinnya dengan kebaikan maka ketahuilah bahwa dia adalah pengikut sunnah -insya Allah-.[6]

 

 6. Tidak Memberontak terhadap Pemimpin

[arabic-font]عن عبادة بن صامت رضي الله عنه قال : دعانا رسول الله صلى الله عليه وسلم فبايعنا, فكان فيما أخذ علينا, أن بايعنا على السمع و الطاعة, في منشطنا ومكرهنا, وعسرنا ويسرنا, وأثرة علينا, وأن لا ننازع الأمر أهله, قال : إلا أن تروا كفرا بواحا عندكم من الله فيه برهان.[/arabic-font]

Dari Ubadah bin Shamit radhiyallahu ‘anhu dia berkata : Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyeru kami, maka kami pun membaiat beliau. Dan diantara baiat kami kepada beliau adalah kami wajib mendengar dan mentaati (pemimpin kaum muslimin) disaat kami semangat maupun terpaksa dan disaat kami dalam kesulitan maupun kemudahan serta agar kami lebih mendahulukan hak pemimpin daripada hak kami. Dan agar kami tidak memberontak kepada pemimpin kaum muslimin. Rasul bersabda : melainkan jika kalian melihat kekafiran yang nyata dan kalian memiliki bukti disisi Allah. (HR.Muslim)

[arabic-font]قال الإمام الطحاوي رحمه الله : ولا نرى الخروج على أئمتنا وولاة أمورنا وإن جاروا ولا ندعوا عليهم ولا ننزع يدا من طاعتهم ونرى طاعتهم من طاعة الله تعالى فريضة مالم يأمروا بمعصية وندعو لهم بالصلاح والمعافاة.[/arabic-font]

Imam Ath-Thahawi rahimahullahu berkata : Kami melarang memberontak kepada para pemimpin kaum muslimin meskipun mereka berbuat kedzaliman dan kami tidak mendoakan mereka dengan kejelekan. Kami tidak akan mencabut ketaatan kepada mereka dan kami berpendapat bahwa ketaatan kepada mereka merupakan ketaatan kepada Allah I yang wajib untuk dilaksanakan selama mereka tidak memerintahkan kepada kemaksiatan. Dan kami mendoakan mereka dengan kebaikan serta keselamatan.[7]

 

 7. Melaksanakan Sebagian Ibadah bersama Mereka

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

[arabic-font]يصلون لكم فإن أصابوا فلكم ولهم وإن أخطوؤا فلكم وعليهم[/arabic-font]

Mereka (pemimpin) shalat bersama kalian. Jika mereka benar maka pahalanya untuk kalian dan untuk mereka. Namun jika mereka salah maka pahalanya untuk kalian dan dosanya untuk mereka. (HR.Bukhari)

[arabic-font]قال الإمام سفيان الثوري رحمه الله : يا شعيب : لا ينفعك ما كتبت حتى ترى الصلاة خلف كل بر وفاجر. قال شعيب لسفيان : يا أبا عبد الله : الصلاة كلها ؟ قال : لا، ولكن صلاة الجمعة والعيدين[/arabic-font]

Sufyan Ats-Tsauri rahimahullahu berkata : Wahai Syu’aib, tidak bermanfaat apa yang engkau tulis hingga engkau berpendapat (disyariatkannya) shalat dibelakang pemimpin yang baik maupun yang fajir. Berkata Syu’aib kepada Sufyan : Wahai Abu Abdillah : Apakah semua shalat ? Sufyan menjawab : Tidak, akan tetapi shalat jum’at dan shalat idul fitri serta idul adha. [8]

[arabic-font]قال الإمام الطحاوي رحمه الله : الحج والجهاد ماضيان مع أولي الأمر من المسلمين برهم وفاجرهم إلى قيام الساعة لا يبطلهما شيئ ولا ينقصهما[/arabic-font]

Imam Ath-Thahawi rahimahullahu berkata : Haji dan jihad itu dilaksanakan bersama pemimpin kaum muslimin yang baik maupun yang fajir hingga hari kiamat. Tidaklah hal itu dibatalkan atau dikurangi oleh sesuatu apapun.[9]

 

Surabaya, Sabtu 21 Ramadhan 1435 H/19 Juli 2014 M

Abu Nafisah Abdurrahman Thayyib

 

Footnote:

[1] Huquq Ar-Ra’i Wa Ar-Ra’iyyah hal.29 oleh Syaikh Muhammad bin Shaleh Al-Utsaimin.

[2] Al-Jaami’ Li Ahkaami Al-Qur’an 5/251 oleh Imam Al-Qurthubi.

[3] Asy-Syari’ah 1/373 oleh Al-Ajurri.

[4] Syarh Al-Aqidah Ath-Thahawiyah hal.381 oleh Imam Ibnu Abi Al-‘Izzi

[5] Al-Ma’lum min wajibi Al-Alaqah baina Al-Hakim Wa Al-Mahkum hal.22 oleh Syaikh Abul Aziz bin Baz

[6] Syarhu As-Sunnah hal 107-108 oleh Imam Al-Barbahari.

[7] Al-Aqidah Ath-Thahawiyah hal 69 oleh Imam Ath-Thahawi.

[8] Syarhu Ushul I’tiqad Ahlussunnah Wal Jama’ah 1/173 oleh Imam Al-Lalikai.

[9] Al-Aqidah Ath-Thahawiyah hal.123 oleh Imam Ath-Thahawi.

Sebelum Kamu Bermaksiat

Sesungguhnya maksiat adalah luka bagi hati, kegelapan bagi jiwa, kelemahan bagi raga, jalan menuju nestapa, serta penggiring kepada neraka. Sungguh kemaksiatan itu walaupun menyenangkan pada awalnya namun kesengsaraan telah menantinya. Apabila orang yang senantiasa melakukannya mengetahui akibat
buruk dari dosa dan maksiat, niscaya dia akan berhenti dari melakukannya dan akan istiqomah (teguh) dalam ketaatan dan kebaikan. Akan tetapi mata kemaksiatan itu adalah buta!

Seorang penyair berkata:
Terkadang mata mengingkari cahaya matahari lantaran buta
Dan mulut mengingkari segarnya air lantaran sakit menderita

SEJARAH TELAH MENASIHATI KITA
Apakah gerangan yang telah membinasakan umat-umat terdahulu dan kejayaannya, selain daripada dosa-dosa dan kemaksiatan?

Allah ‘azza wa jalla berfirman:
“Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan”. (QS. al-‘Ankabut: 40)

Apa yang telah mengeluarkan kedua orang tua kita (Adam dan Hawa) dari surga tempat yang penuh kelezatan, kenikmatan, kegembiraan dan kebahagiaan kepada tempat yang dihiasi rasa sakit, kesedihan dan kesengsaraan?

Apa yang telah mengeluarkan iblis dari kerajaan langit, mengusirnya, melaknatnya, membencinya, dan menjadikannya pemimpin bagi setiap orang yang durhaka, sesat lagi ingkar?

Apa yang telah menenggelamkan seluruh penduduk bumi pada zaman nabi Nuh ‘alaihis salam, sehingga permukaan air lebih tinggi dari
puncak gunung?

Apa yang telah menenggelamkan Fir’aun dan bala tentaranya di laut, kemudian melemparkan arwah mereka ke neraka, sehingga jasad-jasadnya ditenggelamkan dan arwah-arwahnya dibakar?

Apa yang telah menjadikan keadaan kita berbalik, sehinga orang-orang Yahudi merampas negeri-negeri, tempat-tempat suci dan harta-harta kita? menyembelih, membunuh dan menyiksa kita, sehingga kita menjadi umat yang yang terhina setelah dahulunya kita adalah sebaik-baik umat yang dikeluarkan bagi manusia?

Bukankah hal itu tidak lain lantaran dosa-dosa dan kemaksiatan? Bukankah itu disebabkan kita terlalu condong kepada dunia dan meninggalkan jihad di jalan Allah ta’ala? Bukankah semua itu disebabkan oleh kita yang selalu menuruti hawa nafsu dan mencari-cari kenikmatan yang haram lagi semu?

SEBELUM BERMAKSIAT
Wahai saudaraku tercinta, sebelum kamu berbuat maksiat, ingatlah bahwasanya Allah melihatmu dan Dia Maha Mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu tampakkan. Firman-Nya:

[arabic-font]أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ يَعْلَمُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَا يَكُونُ مِنْ نَجْوَى ثَلَاثَةٍ إِلَّا هُوَ رَابِعُهُمْ وَلَا خَمْسَةٍ إِلَّا هُوَ سَادِسُهُمْ وَلَا أَدْنَى مِنْ ذَلِكَ وَلَا أَكْثَرَ إِلَّا هُوَ مَعَهُمْ أَيْنَ مَا كَانُوا ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا عَمِلُوا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّ اللَّهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ[/arabic-font]

“Tiada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dia-lah keempatnya. Dan tiada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dia-lah keenamnya. Dan tiada (pula) pembicaraan antara jumlah yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia bersama mereka di manapun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu”. (QS. al-Mujadilah: 7)

Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah bahwasanya Malaikat mencatat semua perkataan dan perbuatanmu di dalam lembaran-lembaran amalmu, dia tidak akan meninggalkan sedikitpun dari amalanmu meski sekecil dzarrah ataupun lebih kecil lagi
dari itu. Allah ta’ala berfirman:

[arabic-font]مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ[/arabic-font]

“Tiada suatu lafazhpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf: 18)

“Sesungguhnya Kami telah menyuruh mencatat apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. al-Jatsiyah: 29).

“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya, dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya dia akan melihat (balasan)nya pula”. (QS. az-Zalzalah: 7-8)

Sebelum bermaksiat, ingatlah hari dimana orang-orang durjana berkata:

“Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya. Dan mereka dapati apa yang telah mereka kerjakan ada (tertulis). Dan Tuhanmu tidak menganiaya seorangpun”. (QS. al-Kahfi: 49)

Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah hari dimana orang-orang kafir berkata:

“Aduhai, alangkah baiknya sekiranya dahulu aku adalah tanah”. (QS. an-Naba: 40) Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah hari tatkala matahari didekatkan berjarak hanya satu mil dari kepala dan manusia bergelimang dengan keringat. “Lalu mereka berada dalam keringat sesuai amal perbuatan mereka, di antara mereka ada yang berkeringat hingga tumitnya, ada yang berkeringat hingga lututnya, ada yang berkeringat hingga pinggang dan ada yang benar-benar tenggelam oleh keringat.” (HR. Muslim)

Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah hari tatkala manusia dikumpulkan pada hari kiamat tanpa beralas kaki, tanpa ada sehelai benang yang melapisi dan tanpa dikhitani. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Manusia dikumpulkan pada hari kiamat dalam keadaan tak beralas kaki, tanpa ada sehelai benang yang melapisi dan tanpa dikhitani”. Aisyah berkata: Ya Rasulullah, wanita dan laki-laki semuanya akan saling melihat satu sama lain. Beliau menjawab: “Wahai Aisyah, perkara hari itu lebih dahsyat dari sekedar melihat satu sama lain.” (Muttafaq ‘alaihi)

Sebelum bermaksiat, ingatlah saat kematian, saat ruh berpisah dengan jasad, saat dimana kamu menyesali dirimu sedangkan pada saat itu tidak bermanfaat penyesalan dan permohonan ampunmu. Firman-Nya:

“Jika mereka bersabar (menderita adzab) maka nerakalah tempat diam mereka dan jika mereka mengemukakan alasan-alasan, maka tidaklah mereka termasuk orang-orang yang diterima alasannya.” (QS. Fushshilat: 24)

Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah malakul maut yang mengurusi pencabutan ruhmu, dia mencabutnya dengan begitu keras, sehingga seluruh anggota tubuhmu terasa tercabik-cabik lantaran kerasnya.

Ketika itu kamu ingin bertasbih walau hanya satu kali namun mulut tak mampu menuruti, atau ingin bertakbir walau satu kali namun lidah tidak berdaya, atau ingin bertahlil saja namun juga tidak kuasa, atau ingin shalat walau hanya dua rakaat namun tubuh tidaklah kuat, atau bersedekah walau hanya satu rupiah namun diri teramat payah, atau membaca al-Qur`an meski satu ayat namun lisan tak mau terangkat.

Sungguh lisan telah membisu, mata telah terbelalak, tangan dan kaki telah kaku dan akalpun hilang lantaran dahsyatnya apa yang dia lihat pada hari itu.

Sebelum kamu bermaksiat, ingatlah akan kubur dan azabnya, kesempitan dan kegelapannya, cacing-cacing dan hewan-hewannya, kuburan itu bisa menjadi taman dari taman-taman surga atau lubang dari lubang-lubang neraka.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Sekiranya kalian tidak akan saling menguburkan, niscaya sudah aku mohonkan kepada Allah untuk memperdengarkan adzab kubur kepada kalian.” (HR. Muslim)

Di antara akibat yang paling besar dari kemaksiatan adalah bahwasanya kemaksiatan menjadikan terputusnya hubungan antara hamba dan Rabb-nya, dan apabila hal ini terjadi maka terputuslah darinya sebab-sebab kebaikan dan tersambunglah dengan sebab-sebab kejelekan.

Kita berdoa kepada Allah tabaraka wa ta’ala semoga Dia menjadikan kita termasuk hambanya yang taat yang tidak ada ketakutan baginya dan tidak pula dia bersedih hati.

(Diringkas dan diterjemahkan dari buku Tadzakkar Qobla an Ta’shiya)

Oleh: Bambang Prasetyo
Sumber: www.buletinaliman.com

Jangan Sia-siakan Masa Mudamu!

Umur merupakan kumpulan dari waktu-waktu yang dilalui oleh seorang manusia. Sedangkan masa muda merupakan salah satu fase yang akan dilalui olehnya. Masa muda merupakan masa keemasan yang dimiliki oleh seseorang, karena saat itulah pertumbuhan fisiknya telah sempurna dan ia mempunyai kesempatan serta kekuatan yang besar. Hal ini merupakan salah satu nikmat dari Allah yang patut untuk kita syukuri karena tidak semua orang memperoleh kenikmatan ini. Lalu sudahkah kita mensyukuri masa muda yang Allah berikan kepada kita ini?.

Hidup di Dunia Hanyalah Sementara
Seorang pemuda yang sadar bahwa suatu saat ia akan meninggalkan masa muda dan kehidupan dunianya, pasti akan senantiasa berfikir untuk masa depannya kelak di akhirat. Dia tentunya tidak akan menyia-nyiakan masa mudanya tersebut hanya untuk berfoya-foya tanpa melakukan amal perbuatan yang bermanfaat bagi akhiratnya. Dia juga akan senantiasa memanfaatkan masa mudanya untuk beribadah kepada Allah dan mengisi hari-harinya dengan perbuatan yang bisa mendekatkan dirinya kepada Allah.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam senantiasa menasihatkan kepada para pemuda untuk benar-benar memanfaatkan hidupnya di dunia ini untuk memperbanyak bekal akhiratnya. Karena sejatinya, seorang yang hidup di dunia ini adalah ibarat seorang pengembara yang beristirahat di suatu tempat dan suatu saat akan meninggalkannya. Dahulu ketika Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma masih remaja, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menasihatinya dengan sabdanya:
[arabic-font]كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيْبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيْلٍ[/arabic-font]
“Jadilah engkau di dunia ini sebagai orang yang asing atau seorang pengembara”. (HR. Bukhari no. 6416)

Dalam hadits yang lain, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda:

[arabic-font]مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلاَّ كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا[/arabic-font]

”Apa peduliku dengan dunia?! Tidaklah aku hidup di dunia ini melainkan seperti seorang pengembara yang berteduh di bawah pohon dan beristirahat, lalu pengembara tersebut pergi meninggalkannya.” (HR. at-Tirmidzi no. 2377)

Allah Senantiasa Mengawasi Setiap Perbuatan HambaNya
Seseorang yang mempunyai keimanan terhadap kehidupan akhirat tentunya akan benar-benar memanfaatkan umur dan masa muda yang diberikan oleh Allah kepadanya dengan sebaik mungkin. Dia akan mengisi hari-harinya dengan hal-hal yang bermanfaat. Disaat dia lalai dan berbuat salah kepada Allah, ia pun akan segera bertaubat kepadaNya. Karena dia tidak mau mengahadap Allah Ta’ala dengan membawa dosa yang justru akan mendatangkan murka Allah Ta’ala.

Berbeda dengan orang-orang yang tidak beriman kepada kehidupan akhirat dan cenderung tidak merasa takut terhadap balasan Allah Ta’ala. Maka mereka pun akan menghabiskan masa mudanya di dunia ini dengan bermaksiat kepada Allah dan melakukan hal-hal yang disukainya saja tanpa memperhatikan apakah hal itu dilarang oleh Allah atau tidak. Mereka seakan-akan tidak merasa takut dengan apa yang dilakukannya. Padahal mereka tidak akan pernah lepas dari pengawasan Allah Ta’ala walaupun sedetik saja. Dan akan selalu ada malaikat di sampingnya yang akan mencatat segala apa yang ia lakukan dan apa yang ia ucapkan. Allah Ta’ala berfirman:

[arabic-font]مَا يَلْفِظُ مِن قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ[/arabic-font]

“Tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir.” (QS. Qaaf [50]: 18)

Masa Muda Seseorang, Akan Ditanyakan di Hari Kiamat
Salah satu hal yang akan Allah mintai pertanggungjawabannya kepada setiap manusia kelak di hari kiamat adalah mengenai masa muda yang telah dianugerahkan kepadanya. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

[arabic-font]لَا تَزُوْلُ قَدَمَا ابْنِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ عِنْدِ رَبِّهِ حَتَى يُسْأَلَ عَنْ خَمْسٍ عَنْ عُمْرِهِ فِيْمَا أَفْنَاهُ وَعَنْ شَبَابِهِ فِيْمَا أَبْلَاهُ وَعَنْ مَالِهِ مِنْ أَيْنَ اكْتَسَبَهُ وَفِيْمَا أَنْفَقَهُ وَمَاذَا عَمِلَ فِيْمَا عَلِمَ[/arabic-font]

“Tidak akan bergeser kedua kaki anak Adam di hari kiamat dari sisi Rabb-Nya, hingga dia ditanya tentang lima perkara (yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya dari mana ia dapatkan, dan dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan dan apa saja yang telah ia perbuat dari ilmu yang dimilikinya.” (HR. ath-Thirmidzi no. 2416, ath-Thabrani dalam al-Mu’jam al-Kabir jilid 10 hal 8 hadits no. 9772 dan hadits ini telah dihasankan oleh Syaikh al-Albani dalam Silsilah al-Ahadits ash-Ashahihah no. 946)

Dan janganlah dikira bahwa yang akan dimintai pertanggungjawaban oleh Allah itu hanya yang dilakukan oleh anggota badan saja, bahkan pendengaran, penglihatan dan apa-apa yang tersimpan di dalam hatinya pun akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Allah kelak di hari kiamat . Allah shallallahu ‘alaihi wa sallam berfirman:

[arabic-font]إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولـئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً[/arabic-font]

“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggunganjawabnya.” (QS. al-Isra [17]: 36)

Setelah mengetahui bahwa segala macam perbuatan yang kita lakukan itu akan dimintai pertanggungjawabannya, maka sudah selayaknya kita harus lebih berhati-hati dalam setiap tindak tanduk kita. Dan berusahalah untuk senantiasa menghindari keburukan-keburukan yang bisa saja kita lakukan dengan anggota badan maupun dengan pendengaran, penglihatan dan hati kita.

Jadilah Pemuda yang Dicintai Oleh Allah
Menjadi seorang pemuda yang dicintai oleh Allah merupakan impian setiap insan yang beriman. Karena jika Allah sudah mencintai seorang hamba, maka keberkahanlah yang kan ia dapatkan. Dan kelak di hari kiamat dia akan mendapatkan perlindungan dan naungan dari-Nya, dimana pada hari itu tidak akan ada naungan (sama sekali) kecuali naungan dari-Nya. Namun, bagaimanakah kriteria manusia yang akan mendapatkan naungan Allah tersebut? Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

[arabic-font]سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِي ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ…… وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ[/arabic-font]

“Ada tujuh golongan manusia yang akan mendapatkan naungan Allah, di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya (diantaranya adalah): …….Dan seorang pemuda yang tumbuh dalam ibadah (ketaatan) kepada Allah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari hadits tersebut kita mengetahui bahwasanya pemuda yang tumbuh dalam ibadah dan ketaatan, dihari kiamat nanti ia akan mendapatkan naungan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala. Dan salah satu bentuk ketaatan yang bisa dilakukan oleh seorang pemuda yaitu dengan mengisi masa-masa mudanya di dunia ini dengan menuntut ilmu syar’i, menghafal al-Quran dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, menyibukan diri dengan membaca kitab-kitab para ulama, memperbanyak puasa, berbakti kepada orang tua, mengerjakan amalan-amalan sunnah, menjaga dirinya dari perbuatan-perbuatan maksiat yang bisa membinasakan dirinya dan menahan hawa nafsunya dari hal-hal yang bisa mendatangkan murka Allah serta bentuk-bentuk ketaatan yang lainnya.

Semoga Allah Subhanahu wa Ta’ala senantiasa memberikan petunjuk, taufik dan hidayahNya kepada kita semua sehingga kita bisa memanfaatkan masa muda di dunia ini dengan hal-hal yang bermanfaat. Dan semoga kita dimasukan ke dalam golongan pemuda yang akan mendapatkan naungan dariNya kelak di hari kiamat. Aamiin Ya Rabbal ‘Aalamiin

Oleh: Mu’adz Mukhadasin
Sumber: www.muadz.com

Sikap Seorang Muslim terhadap Pemimpin

Dalam kehidupan bermasyarakat yang kompleks dan beragam diperlukan seseorang yang dapat memimpin agar terciptanya masyarakat yang aman sejahtera dan sentosa. Setiap orang pasti mengkehendaki seorang pemimpin yang adil, amanat dan jujur. Apalagi seorang muslim yang beriman kepada Allah ta’ala dan Rasul-Nya pasti menginginkan adanya pemimpin yang bertaqwa, shalih, jujur, amanat, dan adil sehingga terwujudnya masyarakat atau negara yang sejahtera dan menegakkan syariat Islam. Akan tetapi apabila pemimpin tersebut tidak sesuai yang mereka dambakan.

Maka timbullah gerakan bawah tanah yang dilakukan oleh kelompok-kelompok tertentu yang menginginkan kudeta atau kekacauan di tengah-tengah asyarakat. Sehingga terjadilah kekacauan, kerusuhan, pengerusakan fasilitas-fasilitas umum dan yang parahnya lagi sampai adanya usaha untuk menggulingkan pemerintahan yang sah.

Dari sini timbul polemik dan permasalahan di tengah masyarakat yang tidak mengetahui agama Islam yang benar ini, bagaimana sikap seorang muslim terhadap pemimpinnya? erikut ini kami suguhkan beberapa kalimat yang menjelaskan sikap seorang muslim terhadap pemimpinnya baik dia seorang yang shalih ataupun fajir. Para ulama ahlus sunnah wal jamaah telah menjelaskan hal ini secara gamblang dalam kitab-kitab akidah mereka. Sehingga apa yang kami jelaskan di bawah ini bukanlah dari hawa kami, namun dari ulama. Inilah sikap seorang muslim ahlus sunnah wal jamaah terhadap pemimpinnya.

1). Mentaati pemimpin dalam perkara yang ma’ruf.
Hal tersebut merupakan kewajiban seorang muslim. Allah ta’ala berfirman:
Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul(Nya), dan ulil amri di antara kamu. kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (al-Qur’an) dan Rasul (Sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya. (QS. an-Nisa’: 59)

Adapun dari hadits Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat (terhadap pemimpin) pada apa-apa yang dicintai atau ia benci kecuali jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan. Jika ia disuruh untuk berbuat kemaksiatan maka tidak boleh mendengar dan taat” (Muttafaq ‘alahi)

Syaikh Abdurrahman as-Sa’di rahimahullah berkata dalam kitab tafsirnya: “Allah memerintahkan kaum muslimin utuk taat kepada Allah dan Rasul-Nya, hal itu dilakukan dengan cara melaksanakan perintahnya dan dan menjauhi larangannya. Dan Allah memerintahkan untuk taat kepada ulil amri, mereka adalah para pemimpin dari kalangan amir, hakim dan muIfti. Sesungguhnya tidak akan berjalan perkara agama dan dunia kecuali dengan menaati dan tunduk kepadanya dalam rangka mentaati perintah Allah dan mengharap ganjaran di sisi-Nya, akan tetapi dengan syarat tidak dalam bermaksiat kepada Allah, apabila mereka memerintahkan kepada kemaksiatan maka tidak boleh taat kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Allah. Sesungghnya ahlus sunnah wal jamaah memandang bahwasanya bermaksiat tehadap pemimpin yang muslim merupakan perbuatan maksiat kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Sebagaimana sabda Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam:
“Barangsiapa yang menaatiku maka ia telah taat kepada Allah, barangsiapa yang bermaksiat kepadaku maka ia telah bermaksiat kepada Allah, barangsiapa yang taat kepada pemimpinku maka ia telah taat kepadaku dan barangsiapa yang bermaksiat kepada pemimpinku maka ia telah bermaksiat kepadaku”. (HR. Bukhari)

2). Mentaati pemimpin baik yang shalih maupun yang zhalim.
Hudzaifah bin Yaman radhiyallahu ‘anhu berkata: “Wahai Rasulullah, dahulu kita berada dalam keburukan kemudian Allah datang memberikan kebaikan dan kita berada di atasnya apakah setelah kebaikan ini akan ada keburukan lagi? Rasulullah menjawab: “Ya”. Kemudian Hudzaifah berkata: “Apakah setelah keburukan akan ada kebaikan? Rasulullah menjawab: “Ya,” Kemudian hudzaifah bertanya: “Apakah setelah kebaikan akan ada keburukan? Rasulullah menjawab: “Ya,” Kemudian hudzaifah bertanya kembali: “Bagaimana hal tersebut dapat terjadi? Rasulullah bersabda: “Akan datang setelahku, pemimpin-pemimpin yang yang tidak mengambil petunjukku, mengambil sunnah bukan dari sunnahku. Dan akan ada orang-orang yang hati mereka seperti hati syaithon dalam tubuh manusia.
Lalu aku berkata: “Wahai Rasulullah, apa yang aku perbuat jika keadaaan tersebut menjumpaiku?” Rasulullah menjawab: “Dengar dan taatilah pemimpin, walaupun punggungmu dipukul dan hartamu diambil, dengarkan dan taati! (HR. Muslim)

3). Tidak melakukan demonstrasi, pemberontakan, kudeta atau keluar dari ketaatan mereka.
Para imam ahlus sunnah wal jamaah tidak pernah memerintahkan kaum muslimin untuk mendemostrasi, mengumbar kejelekan pemimpin di muka umum, baik di media massa maupun di media elektronik, apalagi melakukan pemberontakan, mengangkat senjata dan keluar dari ketaatan pemimpin. Ahlus sunnah wal jamaah mengambil teladan dari para salafush shalih. Lihatlah bagaimana sikap para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum ketika dipimpin oleh pemimpin yang kejam lagi bengis, yaitu Hajjaj bin Yusuf. Tidak ada satupun dari sahabat mendemonstrasi, memberontak apalagi menggulingkan Hajjaj bin Yusuf. Pada saat itu ia pemimpin yang banyak membunuh ulama-ulama yang hidup sezaman dengannya.

4). Wajib atas seorang muslim bersabar ketika dipimpin oleh pemimpin yang zholim.
Ketika seorang muslim diuji dengan pemimpin yang zhalim maka hendaknya ia tetap bersabar atas cobaan tersebut. Perhatikanlah sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berikut:
“Barangsiapa yang meilhat sesuatu yang dibencinya dari pemimpinnya maka bersabarlah. Sesungguhnya barangsiapa yang keluar dari jamaah sejengkal saja kemudian ia meninggal maka ia mati dalam keadaan jahiliyyah”. (Muttafaq ‘alaihi)

Al-Imam Ibnu Abil ‘Izz rahimahullah berkata dalam kitabnya yang berjudul Syarah al-‘Aqidah ath-Thahhawiyyah: “Hukum taat kepada pemimpin adalah wajib (selama tidak dalam kemaksiatan). Karena keluar dari ketaatan mereka akan berdampak kepada kerusakan yang lebih besar daripada kezhaliman pengusa tersebut. Bahkan apabila mereka bersabar maka hal tersebut menjadi penghapus keburukan dan dapat melipatkan ganjaran (pahala).
Ketahuilah bahwasanya Allah tidak menimpakan kepada suatu kaum berupa pemimpin yang zholim melainkan balasan atas perbuatan buruk kaum muslimin tersebut. Seperti yang dikatakan al-jazaa’ min jinsil ‘amal yaitu balasan sesuai dengan perbuatan. Maka hendaklah kita bersungguh-sungguh untuk banyak beristighfar, bertaubat dan memperbaiki amal-amal”.

Hal ini sebagaimana firman Allah ta’ala:
“Dan musibah apa saja yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)”. (QS.asy-Syura: 30)

5). Menasihati mereka dengan sembunyi-sembunyi tidak di depan umum.
Di antara prinsip ahlus sunnah wal jamaah adalah menasehati para pemimpin tidak secara frontal dengan membeberkan aib mereka di muka umum. Dari sini terdapat mashlahat yang sangat besar sehingga terjagalah kehormatan dan kewibawaan pemimpin di mata rakyatnya.

6). Berdoa kepada pemimpin-pemimpin kaum muslimin.
Ketika kaum muslimin diuji oleh Allah ta’ala dengan ditimpakan pemimpin yang zhalim, pemerintahan yang tidak adil, berbuat semena-mena, maka hendaknya mereka berdoa agar Allah ‘azza wa jalla memperbaiki urusan mereka. Karena baiknya urusan negeri akan berdampak baik terhadap penduduknya. Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh para ulama ahlus sunnah wal jamaah ketika mereka dipimpin oleh pemimpin yang zhalim.

Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata: “Sekiranya aku mempunyai sebuah doa baik yang pasti dikabulkan, maka akan aku tujukan untuk para pemimpin. Ia ditanya, “Wahai Abu ‘Ali (kunyah Fudhail bin Iyadh), jelaskan maksud ucapan tersebut? Beliau menjawab: “Apabila doa itu hanya ditujukan kepada diriku, tidak lebih hanya bermanfaat bagi diriku, namun apabila aku tujukan kepada pemimpin dan ternyata pemimpin berubah menjadi baik maka semua orang dan negara akan merasakan manfaat dan kebaikannya.”

Penutup
Setelah kami suguhkan bagaimana sikap seorang muslim yang berpegang kepada manhaj salafush shalih maka jelaslah kesesatan dan penyimpangan cara-cara yang gunakan beberapa hizb atau golongan sesat yang mengatasnamakan ahlus sunnah wal jamaah. Mereka sangat jauh dari tuntunan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para ulama ahlus sunnah wal jamaah. Mereka berdemonstrasi di jalan-jalan, mengumbar aib-aib pemimpin di tengah-tengah masyarakat, bahkan yang lebih mengenaskan lagi mereka melakukan pengeboman dengan dalih bom mati syahid dalam rangka menegakkan negara Islam. Semoga Allah memperbaiki urusan-urusan pemimpin kita di bumi Indonesia. sehingga negeri tercinta Indonesia ini menjadi negeri yang Allah curahkan barakah dari langit dan bumi. Aamiin.

Oleh: Aulia Ramdanu
Sumber: www.buletinaliman.com